Jakarta (KABARIN) - Perempuan disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia dibanding laki-laki. Temuan ini kembali diperkuat lewat penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Biology of Sex Differences.
Dilansir dari Eating Well pada Rabu (27/5), para peneliti mencoba mencari tahu faktor-faktor apa saja yang membuat perempuan lebih rentan mengalami penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Penelitian tersebut menggunakan data dari Health and Retirement Study di Amerika Serikat dengan melibatkan 17.182 peserta berusia 40 tahun ke atas. Hampir 60 persen peserta dalam studi ini adalah perempuan.
Tim peneliti menganalisis 13 faktor kesehatan dan gaya hidup yang masih bisa diubah atau dikendalikan. Beberapa di antaranya seperti depresi, kurang aktivitas fisik, diabetes, hipertensi, obesitas, gangguan tidur, kehilangan pendengaran, hingga isolasi sosial.
Selanjutnya, faktor-faktor tersebut dibandingkan dengan hasil tes kognitif peserta yang mengukur kemampuan mengingat dan berhitung sederhana.
Hasilnya, perempuan diketahui memiliki lebih banyak faktor risiko dibanding laki-laki. Tingkat depresi, kurang olahraga, dan gangguan tidur ditemukan lebih tinggi pada perempuan.
Menariknya, meskipun laki-laki lebih sering mengalami gangguan pendengaran dan diabetes, dampak kondisi tersebut terhadap fungsi otak ternyata jauh lebih besar pada perempuan.
Masalah kesehatan yang berkaitan dengan jantung dan metabolisme seperti tekanan darah tinggi serta indeks massa tubuh tinggi juga dinilai memberi efek negatif lebih kuat terhadap kemampuan berpikir perempuan.
Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa studi ini hanya menunjukkan hubungan keterkaitan dan bukan sebab akibat langsung.
Namun, hasil penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan kesehatan yang lebih personal sesuai jenis kelamin dan kondisi masing-masing individu untuk menjaga kesehatan otak saat menua.
Berdasarkan hasil studi, ada beberapa langkah yang dinilai penting dilakukan perempuan untuk membantu menekan risiko demensia.
Pertama, menangani gangguan pendengaran sejak dini. Pemeriksaan rutin dan penggunaan alat bantu dengar jika direkomendasikan tenaga kesehatan dinilai dapat membantu menjaga fungsi otak.
Kedua, menjaga kadar gula darah agar tetap stabil untuk mengurangi risiko diabetes. Cara yang bisa dilakukan antara lain menerapkan pola makan tinggi serat, rutin olahraga, dan tidur yang cukup.
Ketiga, mengontrol tekanan darah dengan rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan sehat, serta berkonsultasi dengan tenaga medis bila diperlukan.
Peneliti menilai langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang dan menurunkan risiko penurunan fungsi kognitif saat usia bertambah.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026